Kajian Mawarist Membawa Harmonis
Kajian Mawaris
Membawa Harmonis
Matahari
begitu menyongsong tinggi menandakan hari sudah semakin siang, membuat tubuhku
mengeluarkan banyak peluh keringat. Bel dikelas sudah berbunyi, orang-orang pun
bersemangat untuk cepat-cepat keluar dari gerbang sekolah. Aku Azzura Zahra bersekolah
di MAN 1 Nuasa Bangsa tepatnya berada di kota Bogor, yang merupakan anak bungsu
dari 4 bersaudara. Biasanya setelah pulang sekolah aku selalu dijemput oleh Umi
dan Abi karena mereka punya banyak waktu luang dirumah dibandingkan dengan
kerjanya. Umi dan Abi menjemputku sekalian melihat usaha rumah makannya yang
berada di beberapa cabang daerah. Akan tetapi sekarang ini yang selalu kulihat diluar gerbang hanya ada kakak iparku saja yang menjemput,
itupun kadang ia terlambat.
17 oktober 2018 masih teringat di ingatanku
dimana hari itu sepulang sekolah Umi dan Abi mengajakku untuk pergi kajian bersama yang letaknya berada di kota Jakarta Timur. Ya, kami memang selalu mengikuti kajian rutin setiap hari jumat. Kota Jakarta ini sangat rawan
macet karena memang merupakan kota metropolitan. Ah, panas dan macetnya kota Jakarta
membuat kami suntuk diperjalanan.
“Abi, setelin muratal aja, biar menunggunya Zura
atas kemacetan ini ga sia-sia.” rengekku pada Abi.
Abi tersenyum sambil berkata “oh iya Abi sampai lupa saking fokusnya menyetir, Abi hanya tidak ingin murattal ini dilalaikan begitu saja sedangkan kita sibuk dengan masing-masing.
Tadikan juga Abi lihat Zura lagi ngobrol sama Umi, ga baik nantinya kalo tidak fokus didengar.”
“Iya abiiiii. Zura paham ko, makannya Zura pengen dengernya sekarang.” pintaku.
“Iya bungsu ku iya. awas loh jangan tidur, sekalian
muraja’ah juga ya.” balas abi.
“Siap bos!!” sambil menaikkan tanganku ke
samping kepala tanda memberi hormat.
Melihat pembicaraan kami berdua Umi hanya bisa tersenyum, Umi memang banyak diam ketika dalam perjalanan.
Aku tahu diamnya ia adalah karena lidahnya yang selalu basah akan terus
menerus mengingat Allah. Berdzikir seakan-akan tak pernah lepas dari lisannya,
terkadang aku selalu melihat Umi sampai ketiduran. Kebahagiaan dalam hati
dan rasa luapan syukur yang tiada hentinya kupanjatkan selalu kepada Allah SWT.
Karena Allah telah banyak memberiku kenikmatan yang begitu besar, terutama aku
diberikan orangtua yang selalu mengingatkan dalam kebaikan juga keharmonisan
rumah tangga orangtuaku yang tak pernah pudar. Ya, seperti dalam QS Ibrahim
ayat 7 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya Azab-ku
sangat pedih” dan ayat yang tak pernah kulupakan dalam QS ar-Rahman “Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.
bersambung...
Komentar
Posting Komentar